Lalove Alat Music Kaili

Minggu, 16 Oktober 2011

Alat kesenian lalove berfungsi sebagai alat pengiring tari tradisional disamping alat lain seperti gendang. Tari tradisional ini dalam bahasa daerahnya di sebut balia, yang terdiri dari beberapa jenis. Pada mulanya lalove ini tidak sembarang ditiup, sebab bagi orang-orang yang biasa kerasukan roh mendengarnya maka dengan spontanitas orang tersebut akan kerasukan. Itulah sebabnya lalove tersebut tidak sembarang orang yang meniupnya, terbatas pada orang-orang tertentu dan di sebut bule. Lalove ini sangat penting kedudukannya dalam mengiringi tarian upacara penyembuhan, sebab apabila salah irama para penari yang udah kerasukan roh, akan marah dan mengamuk. Upacara penyembuhan dilaksanakan pada malam hari, lamanya upacara berdasarkan lamanya pasien yang kerasukan kadang-kadang sampai siang. Tetapi akhir-akhir ini alat tersebut telah banyak dipakai untuk mengikuti/ mengiringi tarian tradisional yang telah dikreasikan. Namun demikian anak-anak/ remaja masih belum mampu menggunakannya, sehingga hanya orang-orang yang telah berumur yang mampu meniupnya secara sempurna.

Bahan: Buluh dan Rotan.
Bentuk: Bulat Panjang, seperti suling. Warna: Kuning kecoklat-coklatan.

Cara pembuatannya:
1. Memilih bahan dengan cara mencari buluh yang sudah tua dan lurus. Buluh untuk lalove ini, dicari dan pilih buluh yang tumbuh digunung atau di bukit-bukit, dan rumpun yang terletak paling tinggi.
2. Sebelum menebang atau mengambil buluh tersebut, terlebih dahulu dibuatkan upacara untuk minta izin kepada penghuni/ penguasa di bukit tersebut. Upacara ini menguguhkan sesajen berupa ayam putih yang diambil darahnya sedikit lalu dilepas. Disamping itu adapula makanan, sambil membacakan mantera-mentera.
3. Selesai upacara, lalu memilih bulu yang paling tinggi, lurus dan sudah tua, dan ditebang sambil mengucapkan tebe (permisi), sebanyak 3 (tiga) batang.
4. Buluh-buluh tadi dibawa ke sungai, setelah dikeluarkan ranting-ranting, dan kemudian di sungai yang diikuti oleh pembuatnya.
5. Oleh pembuat memilih buluh yang terlebih dahulu hanytut dari buluh lainnya, dan buluh tersebut merupakan pilihan utama.
6. Buluh pilihan tersebut dipotong seruas-ruas, lalu dialirkan lagi kesungai untuk mendapatkan ruas yang utama sebagai pilihan untuk dibuat lalove.
7. Bulu yang dipotong tadi dianginkan sampai kering. Salah satu ruas buku tidak dikeluarkan. Pada bagian buku ini disayat sedikit, kemudian dililit dengan rotan yang telah diraut, sehingga antara sayatan dan lilitan rotan ada lubang untuk masuknya udara dari dalam mulut. Pada bagian yang bertolak belakang dengan bagian yang disayat tadi buat lubang sejumlah enam (6) dengan jarak yang sama tiap tiga lubang dan antara tiap tiga lubang ± 5 cm, sedangkan jarak tiap lubang ± 2 cm.
8. Untuk memperbesar suara lalove tadi pada ujungnya ditambah dengan buluh yang lebih besar, sehingga ujung lalove tadi dapat masuk dalam buluh tadi. Buluh untuk menambah besar suara lalove disebut solonga.
9. Keadaan pengrajin lalove akhir-akhir ini bila dibandingkan pada masa lalu kelihannya agak kurang, namun pada sisi lain nampaknya masih ada usaha untuk melestarikannya.

Usaha ini dikaitkan dengan dikembangkannya usaha melestarikan musik tradisional, tetapi tidak ada lagi upacara-upacara pemilihan buluh, tetapi cukup dengan memilih bulu yang berkualitas baik.

Cara memainkan
1. Dimainkan dalam posisi duduk, pada waktu malam.
2. Pada ujung yang dilit pada rotan diletakkan pada bibir dan ujung yang satunya dijepit oleh jari kaki.
3. Jari-jari tanga kiri (3 jari), telunjuk, jari tengah, dan jari manis menutup tiga lubang bagian atas, begitu pula pada 3 (tiga) lubang pada bagian bawah. Kadang-kadang ibu jari tangan kanan digunakan, apabila Lalove tersebut agak panjang sehingga posisi kaki agak terjulur ke depan.
4. Pada lubang sayatan yang dililit dengan rotan, napas dihembuskan, dan jari-jari tangan dapat bergerak tutup buka pada lubang-lubangnya.
5. Apabila suaranya kurang merdu, dapat diatur dengan cara mengatur rotan pelilit tadi.
Persebaran
Karena alat ini pada mulanya digunakan untuk mengiringi tari tradisional Balia, maka perebarannya terbatas pada orang atau kelompok yang mengadakan upacara balia sebagai upacara penyembuhan orang sakit. Namun demikian akhir-akhir ini dimana orang atau kelompok balia sudah mulai berkurang, tetapi dipihak lain ada usaha menggunakan lalove ini sebagai pengiring tari tradisional yang telah dikreasi. Nampaknya masih didominasi oleh pengikut balia, akan tetapi kaum remaja sudah mulai mencintainya, walau masih perlu belajar banyak. 

0 komentar:

Poskan Komentar

When I See You Smile