Tapis Lampung

Selasa, 25 Oktober 2011


Di daerah Lampung ada sebuah kerajinan tenun yang biasa disebut “tapis Lampung”. Tapis adalah kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan sebagai hiasan dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas benang lungsin. Jenis tenunan ini umumnya dikerjakan secara “sambilan” oleh gadis-gadis remaja (muli) dan ibu-ibu yang sudah lanjut usia sambil menunggu waktu menunaikan ibadah sholat.

Sejak kapan kain tapis dibuat oleh orang Lampung sudah tidak diketahui lagi. Namun menurut Van der Hoop (wikipedia.org), sejak abad II Masehi orang Lampung telah menenun kain brokat yang disebut nampan dan pelepai. Motif-motif kain tenunan ini diantaranya adalah kait dan kunci (key and rhomboid shape), pohon hayat, bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal, binatang, matahari, bulan, dan bunga.

Peralatan dan Bahan Pembuat Tapis Lampung
Peralatan tenun tapis Lampung pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi dua, yakni peralatan pokok dan tambahan. Keduanya terbuat dari kayu dan bambu. Peralatan pokok adalah seperangkat alat tenun itu sendiri yang berukuran 2 x 1,5 meter. Alat ini terdiri atas sesang (alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun), terikan (alat menggulung benang), cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh), belida (alat untuk merapatkan benang), kusuran (alat untuk menyusun dan memisahan benang), apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan), guyun (alat untuk mengatur benang), ijan atau penekan (tunjangan kaki penenun), dan tekang (alat untuk merentangkan kain pada saat menyulan benang emas. Sedangkan, peralatan tambahannya adalah sekeli (alat untuk gulungan benang pakan), terupong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan, dan amben (alat penahan punggung penenun).

Bahan dasar kain tapis Lampung adalah benang tenun yang disebut lusi atau lungsin. Benang lungsin terbuat dari kapas. Sedangkan, hiasannya terdiri dari benang sutera, perak dan benang emas. Selain kain, ada pula bahan-bahan yang digunakan sebagai pewarnanya yang dapat berupa zat kimia maupun pewarna alami seperti: (1) pinang muda, daun pacar, dan kulit kayu untuk pewarna merah; (2) kulit kayu salam dan kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam; (3) kulit kayu mahoni dan kulit kayu durian untuk pewarna cokelat; (4) buah deduku dan daun talom untuk pewarna biru; dan (5) kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.

Motif Ragam Hias Kain Tapis Lampung
Kekayaan alam Lampung sangat mempengaruhi terciptanya ragam hias dengan pola-pola yang mengagumkan. Sekali pun ragam hiasnya tercipta dari alat yang sederhana, namun tenunannya merupakan karya seni yang amat tinggi nilainya. Jadi, tapis bukanlah hanya sekedar kain, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni yang diangkat dari hasil cipta, rasa dan karsa penenunnya. Motif-motif ragam tapis Lampung pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu: motif tumbuh-tumbuhan, motif geometris dan motif campuran antara tumbuh-tumbuhan dan geometris.

Motif-motif tersebut dari dahulu hingga sekarang diwariskan secara turun-temurun, sehingga polanya tidak berubah, karena cara memola motif itu sendiri hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, dan tidak setiap penenun dapat membuat motif sendiri. Orang yang menenun tinggal melaksanakan pola yang telah ditentukan. Jadi, kerajinan menenun merupakan suatu pekerjaan yang sifatnya kolektif.

Terdapat puluhan jenis kain tapis Lampung yang memiliki ragam hias atau motif-motif tersendiri yang khas, seperti: Tapis Inuh, Tapis Cucuk Andak, Tapis Semaka, Tapis Kuning, Tapis Cukkil, Tapis Jinggu, Tapis Jung Sarat, Tapis Balak, Tapis Laut Linau, Tapis Raja Medal, Tapis Pucuk Rebung, Tapis Cucuk Handak, Tapis Tuho, Tapis Sasap, Tapis Lawok Silung, Tapis Lawok Handak, Tapis Jung Sarat, Tapis Balak, Tapis Pucuk Rebung, Tapis Halom/Gabo, Tapis Kaca, Tapis Kuning, Tapis Lawok Halom, Tapis Tuha, Tapis Raja Medal, Tapis Lawok Silung, Tapis Dewosano, Tapis Limar Sekebar, Tapis Ratu Tulang Bawang, Tapis Bintang Perak, Tapis Limar Tunggal, Tapis Sasab, Tapis Kilap Turki, Tapis Jung Sarat, Tapis Kaco Mato di Lem, Tapis Kibang, Tapis Cukkil, Tapis Cucuk Sutero, Tapis Rajo Tunggal, Tapis Lawet Andak, Tapis Lawet Silung, Tapis Lawet Linau, Tapis Jung Sarat, Tapis Raja Medal, Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung, Tapis Cucuk Andak, Tapis Balak, Tapis Pucuk Rebung, Tapis Cucuk Semako, Tapis Tuho, Tapis Cucuk Agheng, Tapis Gajah Mekhem, Tapis Sasap, Tapis Kuning, Tapis Kaco, dan Tapis Serdadu Baris

Namun, tidak semua jenis kain tapis di atas dapat dikenakan oleh semua orang. Ada beberapa jenis diantaranya yang hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu dan pada waktu yang tertentu pula. Jenis-jenis tapis tersebut diantaranya adalah: (1) tapis jung sarat. Tapis ini umumnya dipakai oleh kaum perempuan pada saat menghadiri upacara perkawinan adat dan pengambilan gelar adat; (2) tapis raja tunggal yang hanya dipakai oleh tuho penyimbang (isteri kerabat paling tua) pada saat mengikuti upacara perkawinan adat, pengambilan gelar pangeran dan suttan; (3) tapis raja medal yang juga hanya boleh dipakai oleh tuho penyimbang; (4) tapis laut andak. Tapis ini umumnya dipakai oleh muli cangget (gadis penari) dan anak benulung (isteri adik) sebagai pengiring pada upacara pengambilan gelar suttan; (5) tapis balak yang dipakai oleh kelompok adik perempuan dan kelompok isteri anak seorang penyimbang yang sedang mengambil gelar pangeran pada upacara pengambilan gelar atau pada upacara mengawinkan anak. Tapis ini dapat juga dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada saat menari dalam upacara adat; (6) tapis silung yang dipakai oleh kelompok orang tua yang tergolong kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lain-lain; (7) tapis laut linau yang dipakai oleh kerabat isteri yang tergolong kerabat jauh dalam menghadiri upacara adat dan juga oleh para gadis pengiring pengantin pada upacara turun mandi pengantin; (8) tapis pucuk rebung yang umumnya dikenakan oleh kaum perempuan saat menghadiri upacara adat; dan (9) tapis cucuk andak yang dikenakan oleh kelompok isteri keluarga penyimbang (kepala adat/suku) yang sudah bergelar sutan dalam menghadiri upacara perkawinan, pengambilan gelar adat.

0 komentar:

Poskan Komentar

When I See You Smile